CLICK HERE TO ENTER PETA SECTION A 2010! »

Selasa, 01 November 2011

Identitas sebagai Orang Sunda


Dari mana kita bisa menilai orang lain berbeda dengan kita? Bisa jadi dilihat dari perbedaan biologis, kebiasaan, atau ciri-ciri psikologis yang dimiliki oleh orang tersebut. Saya sendiri sebagai seorang mahasiswa bisa membedakan status pendidikan saya dengan teman yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu saya merasa berbeda ketika di lingkungan kampus bertemu orang-orang yang memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda. Orang lain bisa melihat saya sebagai orang Sunda karena saya bisa berbicara daerah dengan menggunakan bahasa Sunda. Saya merasa sebagai orang Sunda karena Ibu, Bapak dan seluruh keluarga saya merupakan orang Sunda. Oleh karena itu saya bisa menyimpulkan bahwa saya adalah orang Sunda. Perbedan-perbedaan tersebut saya simpulkan sebagai suatu ciri identitas seseorang. Dimana identitas tersebut mencirikan jati diri seseorang.
          Hidup dalam keanekaragaman perbedaan seperti halnya perbedaan asal daerah, dan agama merupakan suatu keadaan yang harus ada saling keterbukaan. Bagi saya penting untuk mengkomunikasikan identitas diri kita kepada orang lain yang berasal dari daerah berbeda. Mengapa penting? Karena menurut saya sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda, termasuk perbedaan sifat menurut asal daerah. Jika kita tidak bisa mengkomunikasikan identitas kita belum tentu orang lain bisa menerima perbedaaan yang ada dalam diri kita. Secara langsung atau tidak langsung saya mencoba untuk memperlihatkan identitas diri saya melalui bahasa daerah yang saya gunakan, atau kebiasaan yang sering saya lakukan.
          Ketika kita mengkomunikasikan identitas diri kita kepada orang lain. Bisa jadi direspon dengan baik atau bahkan tidak menerima perbedaan identitas yang kita punya dengan baik. Efek dari suatu perbedaan sering kali menimbulkan sebuah konflik. Konflik yang terjadi bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti perbedaan agama, tradisi, ataupun pendapat. Contohnya saya terkadang tidak bisa menerima beberapa sifat teman dari Jakarta yang gaya bicaranya seperti seenaknya. Sehingga ketika ada perbedaan pendapat yang menurut mereka bukan suatu masalah tetapi saya membuat hal tersebut menjadi sebuah masalah atau bisa dibilang dimasukkan ke dalam hati.
          Suatu stereotype terhadap kalangan tertentu seperti halnya terhadap  orang-orang Jakarta tersebut bisa mempengaruhi sikap atau pandangan saya terhadap mereka. Sama ketika orang berpendapat bahwa wanita Sunda itu matre, jadi laki-laki yang diluar Sunda menganggap bahwa mempunyai seorang pacar atau istri orang Sunda itu pasti banyak mintanya. Saya tidak ingin dilihat sebagai seorang wanita Sunda yang matre karena saya tidak merasa seperti itu. Sehingga saya memperlihatkan diri saya apa adanya yang tidak mencerminkan seseorang yang matre.
          Pendapat saya mengenai saya bukan wanita yang matre itu adalah pendapat saya sendiri. Saya tidak tahu bagaimana orang melihat saya. Saya merasa saya tidak matre karena matre yang saya pahami adalah seseorang yang selalu meminta dan menghabiskan uang orang lain. Sedangkan saya lebih baik menggunakan uang sendiri selagi punya. Dari situ saya memahami bahwa identitas yang saya punya adalah wanita Sunda yang tidak matre. Penemuan suatu identitas diri tidak secara langsung kita mengetahuinya. Ada beberapa hal misalnya identitas sebagai pelajar yang kedepannya pasti akan berubah menjadi seorang dosen atau pekerja.
          Memahami perbedaan identitas yang kita miliki dengan orang lain diperlukan pemahaman yang baik dalam menyikapinya. Sehingga kitapun harus bisa mengkomunikasikannya dengan baik pula. Menemukan identitas diri tidaklah gampang ada beberapa orang yang masih bingung mengenai identitas dirinya sebagai seorang yang berasal dari keturunan daerahmana. Maka saya bangga saya sudah menemukan identitas diri saya sebagai seseorang yang berasal dari daerah Sunda.

Minggu, 16 Oktober 2011

Practice to Teach

Transferring knowledge is our job as teachers in the future, but the question is how to transfer our knowledge to our student. We know the way to transfer our knowledge is by teaching. Friends, tomorrow we will have school experiences, can you imagine that? We must try to teach them not only practice in our class but practice to the real situation in school or in class.
In the last meeting of PETA class we practiced to teach with our group. Sometime we were joking when we practices student, because we did that to our friends. I remember Bu Mima said how if the student in class were not active, what could we do? Ohh… How it could be? We as students have no idea to make the situation in our class not conducive or not cooperative with our students. Whereas it can be a lesson for us to face that situation.
We did the teaching simulation in group, after we make a lesson plan I would say thanks to my group members Das, Didy, and Asih I’m happy to work together with you. We prepared to teach the morning and we had a video it was very nice. In the other hand we have not been perfect yet we still learn how to teach well and to be effective teachers. I think the other groups were equally good. There was sometimes that we could learn from, right?
I think when we were doing teaching simulation, it is very useful for preparing our school experiences because we got suggestion from Bu Mima, Bu… pray for us so that we can do it well when we do it in school experiences. To be honest I’m nervous to face school experiences, why?? Because this is the time for us to apply what we have learned, maybe some of us had taught before. To teach a whole student in class is the first time for me, but for now we are not alone to teach we have team teaching. So, we must cooperative and work together. I hope we can do the best, and I believe we can do itJ.

Minggu, 09 Oktober 2011

My Third Reflection

            What we have learned in third meeting PETA class? It is the question that I have before I write my reflection. In every subject our knowledge definitely will be increased. In this session we learned about model of instruction. Before that we are triggered to remember the previous lesson about design instruction.
            After we discuss about fun teachers we gathered with our groups. My lecturer gives us paper about the model of instructions they are Direct Instruction, Lecture-Discussion, Guided Discovery, and Group Instruction. I got the material about Lecture-Discussion Model, my paper the thickest. After all finished the reading, we did jigsaw and discuss with the expert group. I think we can see the example of Lecture-Discussion from Mrs. Mima. In the beginning she always asked questions to make a discussion, the questions made us retrieve information from long-term memory because by using it we can integrate the new information. Phases of the Lecture-Discussion Model are introduction, presentation, comprehension monitoring, integration, and the last review and closure.  In comprehension monitoring we can check and assess students understanding of the material. Yes, when Mrs. Mima created the discussion atmosphere about Model of Instructions she said she could see how far our understanding is, and if we haven’t understand about the differences between one and another she gave opportunity to other who understand more about the subject to explain it. When we teach, we can mix Model of Instruction not only use lecture-discussions or group instruction.
            In our module it is said that Direct Instruction and Lecture-Discussion is traditional classroom, do you agree with that? At the time I didn’t agree with that. Why? Because Lecture-Discussion can involve the students to be active in answering the question which make students construct their knowledge. I think traditional classroom and traditional teaching is same but maybe I’m wrong. So, How about you? Do you think traditional classroom and traditional teaching is the same? Let’s discuss. 

Selasa, 04 Oktober 2011

Nama yang Bermakna


Apa sih yang unik dari sebuah nama? Saya rasa nama merupakan salah satu bagian dari identitas diri yang membedakan satu dengan yang lainnya. Bayangkan saja apabila semua orang mempunyai nama yang sama, pastinya akan sulit untuk membedakannya. Nama biasanya diberikan oleh para orang tua dengan harapan agar anaknya bisa mencerminkan makna dari nama tersebut. Pemberian nama disesuaikan dengan maknanya, tidak hanya itu pemberian nama juga terkadang diambil dari singkatan nama orang tua, nama yang mencerminkan agamanya, dan menyisipkan nama ayahnya atau margannya. Disini saya ingin berbagi cerita mengenai nama yang saya miliki.
Saya bertanya kepada Ibu siapa yang memberi nama kepada saya, Ibu bilang bahwa dialah yang memberikan nama yang kemudian disetujui oleh Ayah. Cukup sederhana saja orang tua saya memberi nama kepada saya. Nurvika Putriyana itulah nama saya, bisa dilihat dari kata awal nama saya “Nur” yang diambil dari bahasa Arab artinya cahaya. Kemudian menurut Ibu saya “Vika” itu berarti ika yang dimana diambil dari kata eka, kita mengetahui bahwa eka adalah satu. Jadi nama depan saya yaitu Nurvika mempunyai makna cahaya anak pertama. Setelah itu tidaklah sulit bagi Ibu saya memberi nama belakang yaitu Putriyana, simple saja dia ingin anak perempuannya memiliki sebagian nama ayahnya yaitu Mulyana. Walaupun sebenarnya saya sendiri tidak mengetahui arti dari nama Ayah itu. Dari makna yang dimiliki oleh nama saya “cahaya anak perempuan pertama dari Yana”, Ibu dan Ayah mengingikan saya menjadi cahaya yang bisa menerangi keluarga.
Panggilan saya adalah Vika, senang rasanya memiliki nama tersebut karena tidak pasaran dan saya rasa unik. Buktinya sampai sekarang saya tidak mempunyai teman yang namanya sama, kalaupun ada pastinya sangatlah jarang. Terkadang teman-teman bercanda dengan menambahkan “cu” dibelakang nama panggilan yang menjadi “Pikacu”. Awalnya sebel dipanggil dengan sebutan tersebut, nama itu sama dengan tokoh kartun anak-anak. Tetapi pernah teman saya membela dengan mengatakan bahwa pikacu itu “Vika lucu”. Jadi kalau ada yang memanggil pikacu saya berterima kasih J. Saya bangga memiliki nama yang mempunyai arti cahaya hanya saja terkadang ada yang memanggil “Nur” saya kurang suka. Nur itu seperti nama anak perempuan Sunda yang tinggal dipedesaan, kuno. Memang sayapun tinggal disebuah tempat yang masih bisa dikatakan sebuah desa, tetap saja saya merasa panggilan tersebut kampungan dengan kata lain tidak ingin telihat namanya kampungan.
Meskipun ada hal yang tidak saya suka dalam nama itu, tetapi tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran ingin mengganti nama dengan yang lain. Ibu dan Ayah saya telah memberikan nama terbaik bagi saya. Makna yang terkandung dalam nama tersebut sangatlah berharga karena dengan nama itu saya akan selalu tetap mengenang dan mengingat siapa Ayah saya dan juga setiap hari saya bisa memanggil nama kecilnya. Selain itu agar saya bisa berusaha dan tetap  bisa menjadi penerang bagi keluarga.  

Minggu, 02 Oktober 2011

My Reflection in Second Meet




Like water which flowing calmly by the course of the river. That was my situation when I learned in PETA class. This writing will discuss about my reflection about study activity in class by determining part that was effective and the other part which was not effective during the class. I think lesson that brought by Bu Mima today ran effectively. We can see that from the class today which used lesson plan as its framework and from the activities that was held in classroom.
            As we know that one of the points about good teaching is that before the class starts, we must make a lesson plan. Lesson plan which is already created by Bu Mima made the learning process felt like flowing smoothly and the material that was explained wasn’t felt stiff.  Although we have already made a good lesson plan but if we could not convey it attractively, of course the learning process will be boring. Like Bu Mima said that we couldn’t fully comply the scenario in lesson plan, but at least the desired indicators could be achieved. The Lesson plan helps leading us to what we should deliver to students.
I felt that the activity was very effective to make students understand about the material. The given instruction was varies, the first activity was watching a video followed by discussion groups to criticize the video. Through the group discussion, we could argue about the sample that we saw about the effective and ineffective teachers. During the discussion, Bu Mima kept monitoring the course of discussions within the group. So she could assess the students’ participation in group discussions. Although the explanation about Bloom taxonomy was not discussed deeply but the discussion about making a lesson plan made me remember the material about Bloom taxonomy. Besides watching video and group discussion, there was a time when Bu Mima lecturing us. During the lecturing, the class was actively engaged because Bu Mima involved the students to ask and she lectured the students in an interesting way. She explained using examples and her own experiences about the teacher who makes a lesson plan.
It can be concluded that for me meeting in PETA class was effective, in terms of preparation, the way of delivering the materials, the activities, and the assessment about classroom discussions and students participation in classroom.




Jumat, 30 September 2011

Perbedaan Bukan Suatu Pembeda

       Pertama kali mendengar mata pelajaran Humanistics Studies yang terlintas di benak saya adalah bahwa saya akan mempelajari hubungan antar manusia, namun hubungan yang seperti apa? Jujur saya belum dapat membayangkan seperti apa Humanistics Studies. Kemudian setelah masuk kelas lalu diberikan pertanyaan mengapa kita disebut orang sunda? Apa sih arti dari nama kita? Mengapa kita Islam? Oh ternyata disini kita akan mempelajari dan mendalami karakter kita sebagai manusia serta sebagai mahluk sosial yang mempunyai beragam perbedaan. Pastinya pelajaran ini akan menarik sekali dan bermanfaat untuk kita sebagai calon guru agar dapat berfikir kritis terhadap perbedaan yang ada disekitar kita kelak. Walaupun membahas mengenai perbedaan dalam segala aspek tapi benar kata Pak Hatim (2011), disini kita bukan untuk mencari mana yang benar atau mana yang salah tetapi untuk menambah pengetahuan kita mengenai perbedaan.
Hidup ini memang penuh dengan perbedaan, tetapi perbedaan tersebut merupakan suatu kekayaan. Semakin banyak perbedaan maka kita semakin kaya. Kaya akan sifat-sifat yang dimiliki manusia, budaya, keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya. Seperti halnya Indonesia dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Mengapa negara kita ini bisa merdeka, padahal banyak perbedaan yang dimiliki oleh antar pulau, antar kota, antar desa, bahkan antar masyarakat. Jawabannya karena semua mempunyai satu tujuan yaitu Indonesia merdeka. Jadi perbedaan bukan suatu hambatan, dan bukan suatu ancaman melainkan pemersatu antar individu. Saling melengkapi satu sama lain, seperti halnya sepasang individu yang menjalin suatu hubungan. Kita banyangkan apabila seseorang yang sedang menjalin hubungan pada saat mereka mengalami konflik dan keduanya memiliki sifat yang sama yaitu saling egois maka permasalahan yang mereka miliki akan sulit untuk diselesaikan. Jikalau sifat mereka berbeda yaitu yang satu bisa bersikap lebih sabar maka permasalahan pastilah bisa cepat terselesaikan.

Banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari saling toleransi antar sesama. Seperti halnya masalah agama, mengapa kita yakin dengan agama yang kita anut sekarang? Jawabannya karena kita sudah lebih mendalami agama tersebut. Coba setidaknya kita sedikit mengetahui perbedaan agama kita dengan orang lain, hal tersebut akan menambah pengetahuan kita dan lebih bisa bertoleransi terhadap apa yang dia lakukan dalam kegiatan beragama. Bagaimana cara kita menerima semua perbedaan tersebut? Bisa dengan cara banyak hal menghargai setiap keyakinan yang berbeda, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan konflik serta terbuka terhadap hal-hal baru yang berbeda. Kita lihat situasi di kota Ambon sebelum terjadinya perang saudara. Walaupun disebutkan bahwa kota Ambon adalah kota yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, tetapi mereka bisa hidup rukun satu sama lain dengan penduduk yang berama Islam. Sekarang kita bisa menanamkan keyakinan kita dalam hati bahwa menghargai suatu perbedaan tidaklah sulit bahkan akan menjadi indah. Semua itu merupakan refleksi dari apa yang saya terima setelah belajar di kelas Humanistics Studies.