CLICK HERE TO ENTER PETA SECTION A 2010! »

Jumat, 30 September 2011

Perbedaan Bukan Suatu Pembeda

       Pertama kali mendengar mata pelajaran Humanistics Studies yang terlintas di benak saya adalah bahwa saya akan mempelajari hubungan antar manusia, namun hubungan yang seperti apa? Jujur saya belum dapat membayangkan seperti apa Humanistics Studies. Kemudian setelah masuk kelas lalu diberikan pertanyaan mengapa kita disebut orang sunda? Apa sih arti dari nama kita? Mengapa kita Islam? Oh ternyata disini kita akan mempelajari dan mendalami karakter kita sebagai manusia serta sebagai mahluk sosial yang mempunyai beragam perbedaan. Pastinya pelajaran ini akan menarik sekali dan bermanfaat untuk kita sebagai calon guru agar dapat berfikir kritis terhadap perbedaan yang ada disekitar kita kelak. Walaupun membahas mengenai perbedaan dalam segala aspek tapi benar kata Pak Hatim (2011), disini kita bukan untuk mencari mana yang benar atau mana yang salah tetapi untuk menambah pengetahuan kita mengenai perbedaan.
Hidup ini memang penuh dengan perbedaan, tetapi perbedaan tersebut merupakan suatu kekayaan. Semakin banyak perbedaan maka kita semakin kaya. Kaya akan sifat-sifat yang dimiliki manusia, budaya, keyakinan, adat istiadat, dan sebagainya. Seperti halnya Indonesia dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Mengapa negara kita ini bisa merdeka, padahal banyak perbedaan yang dimiliki oleh antar pulau, antar kota, antar desa, bahkan antar masyarakat. Jawabannya karena semua mempunyai satu tujuan yaitu Indonesia merdeka. Jadi perbedaan bukan suatu hambatan, dan bukan suatu ancaman melainkan pemersatu antar individu. Saling melengkapi satu sama lain, seperti halnya sepasang individu yang menjalin suatu hubungan. Kita banyangkan apabila seseorang yang sedang menjalin hubungan pada saat mereka mengalami konflik dan keduanya memiliki sifat yang sama yaitu saling egois maka permasalahan yang mereka miliki akan sulit untuk diselesaikan. Jikalau sifat mereka berbeda yaitu yang satu bisa bersikap lebih sabar maka permasalahan pastilah bisa cepat terselesaikan.

Banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari saling toleransi antar sesama. Seperti halnya masalah agama, mengapa kita yakin dengan agama yang kita anut sekarang? Jawabannya karena kita sudah lebih mendalami agama tersebut. Coba setidaknya kita sedikit mengetahui perbedaan agama kita dengan orang lain, hal tersebut akan menambah pengetahuan kita dan lebih bisa bertoleransi terhadap apa yang dia lakukan dalam kegiatan beragama. Bagaimana cara kita menerima semua perbedaan tersebut? Bisa dengan cara banyak hal menghargai setiap keyakinan yang berbeda, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan konflik serta terbuka terhadap hal-hal baru yang berbeda. Kita lihat situasi di kota Ambon sebelum terjadinya perang saudara. Walaupun disebutkan bahwa kota Ambon adalah kota yang sebagian besar penduduknya beragama Kristen, tetapi mereka bisa hidup rukun satu sama lain dengan penduduk yang berama Islam. Sekarang kita bisa menanamkan keyakinan kita dalam hati bahwa menghargai suatu perbedaan tidaklah sulit bahkan akan menjadi indah. Semua itu merupakan refleksi dari apa yang saya terima setelah belajar di kelas Humanistics Studies.